Cerpen Bahasa Inggris dan Terjemahnya

Belajar Inggis Online
Full Conversation Tanpa Grammar
4 bln Lulus, Bersertifikat>> Detail

Belajar Inggris Kilat

TANPA keluar rumah TANPA grammar
90% PRAKTEK Percakapan>> Detail

Kursus Bhs Inggris Instant
1 Bulan bisa Ngomong Bersertifikat
di download 100.000+ orang>> Detail

Cerpen atau Cerita Pendek (Short Story) adalah jenis karya sastra yang berbentuk prosa naratif. Cerita pendek memberikan komposisi cerita yang cukup padat dan langsung pada tujuan akhir ceritanya. Banyak jenis tema yang bisa dipilih untuk dijadikan cerpen, diantaranya,

Cerpen Bahasa Inggris

Cerpen Bahasa Inggris Tentang Persahabatan dan Artinya

Cerpen bahasa Inggris tentang persahabatan biasanya cocok untuk anak-anak atau remaja. Masa anak-anak dan remaja adalah fase dimana seseorang mulai berimajinasi dan menentukan mana yang baik dan buruk. Oleh karena itu, kumpulan cerita persahabatan untuk anak biasanya diilustrasikan dalam bentuk cerita binatang atau dengan tokoh manusia seusia mereka. Terlebih lagi tema dan isi cerita tentang pertemanan dan sahabat ebnar-benar diunggulkan dalam keseluruhan cerpen. Cerpen dengan tema ini mengajarkan kita untuk selalu bersikap saling meghargai, tolong-menolong, dan peduli kepada  teman demi menjaga hubungan persahabatan. Berikut adalah beberapa kumpulan cerita tentang persahabatan beserta artinya.

Cerpen Tentang Persahabatan

The Lion and The Mouse

One day a lion was sleeping in his den. A mouse was also playing nearby. By chance a mouse ran over the lion. This made the lion wake up. The lion caught the mouse. He was ready to kill it.

‘Please do not kill me,’ said the mouse. ‘I am a tiny creature. Please save me.’

The lion felt pity for the mouse. He smiled and let the mouse go.

A few days after, the lion was walking in a jungle. He found himself caught in a hunter’s net. He roared and rolled to get out of the net. But he failed.

The mouse heard the roar. It at once ran to the lion and said, ‘Please don’t roar. I’ll on set you free.’

It cut through the net and set the lion free.

Lesson: sometimes the smallest of friends can make a biggest impact in your life. The good you do for those small friends will come back when you badly need support.

Terjemah

Singa dan Tikus

Suatu hari seekor singa sedang tidur di sarangnya. Seekor tikus juga sedang bermain di dekatnya. Secara tidak sengaja, sang tikus menabrak singa sehingga membuatnya terbangun. Singa menangkap tikus itu dan ia siap membunuhnya.

“Tolong jangan bunuh aku,” kata si tikus. ‘Aku adalah makhluk kecil. Tolong bebaskan aku.’

Singa merasa kasihan pada tikus itu. Kemudian ia tersenyum dan membiarkan tikus itu pergi.

Beberapa hari kemudian, sang singa sedang berjalan di hutan. Dia tiba tiba terperangkap dalam jaring pemburu. Dia meraung dan berguling untuk keluar dari jaring namun ia gagal melakukannya.

Tikus mendengar deruan singa yang membuatnya langsung berlari ke singa dan berkata, “Tolong jangan mengaum. Aku akan membebaskanmu. “

Ia memotong jaring dan sang singa pun bebas.

Moral: Terkadang teman-teman yang kita remehkan dapat membuat dampak terbesar dalam hidup kita. Kebaikan yang kita  lakukan untuk teman-teman akan kembali ketika kita sangat membutuhkan bantuan dan dukungan.

A True Friend

Tom and John were two friends. One day they were passing through a dense forest. John said, “Friend, I am afraid there are wild beasts in this forest. What will we do if a wild beast attacks us?”

“Don’t be afraid, John,” said Tom, “I shall stand by your side if any danger comes. We shall fight together and save ourselves.” Thus talking they went on their journey.

But suddenly they saw a bear coming towards them. Tom at once got up the nearest tree. He did not think what his friend would do.

John did not know how to climb a tree. He had no way of escape. He was helpless. But soon he took a plan. He fell flat on the ground like a dead man.

The bear came up to John. It smelt his nose, ears and eyes. It took him to be dead and went away. Then Tom came down from the tree. He said to John, “What did the bear whisper in your ear?”

John said, “The bear told me not to trust a friend who leaves his friend in danger.”

Lesson: An insincere and evil friend is more to be feared than a wild beast; as a wild beast can harm your body, but an evil friend can wound your soul.

Terjemah

Kawan Sejati

Tom dan John adalah teman baik. Suatu hari mereka melewati hutan lebat. John berkata, “Sobat, saya khawatir ada binatang buas di hutan ini. Apa yang akan kita lakukan jika binatang buas menyerang kita? ”

“Jangan takut, John,” kata Tom, “aku akan berdiri di sisimu jika ada bahaya. Kita akan berjuang bersama dan menyelamatkan diri kita sendiri. ”Demikianlah pembicaraan mereka melanjutkan perjalanan mereka.

Tapi tiba-tiba mereka bertemu beruang di hutan dan ia datang ke arah mereka. Tom segera memanjat pohon terdekat untuk melarikan diri. Dia tidak memikirkan apa yang akan dilakukan temannya.

John tidak tahu bagaimana memanjat pohon. Dia tidak punya cara untuk melarikan diri. Dia tidak berdaya. Namun dia mengambil rencana lain. Dia pura pura jatuh di tanah seperti orang mati.

Beruang itu menghampiri John. Kemudian beruang itu mencium hidung, telinga, dan mata John. Dia mengira John sudah mati dan kemudian beranjak pergi.

Lalu Tom turun dari pohon. Dia berkata kepada John, “Apa yang dibisikkan beruang itu di telingamu?”

John berkata, “Beruang itu memberitahuku untuk tidak mempercayai seorang teman yang meninggalkan temannya dalam bahaya.”

Moral: Teman yang tidak tulus dan jahat lebih ditakuti daripada binatang buas; binatang buas memang dapat membahayakan tubuh kita, teman jahat dapat melukai jiwa Kita.

The Four Friends

Once upon a time, a deer, a crow, a mouse and a turtle were great friends. One day the deer went out to graze. He was caught in a hunter net. This is what makes  the deer did not return to his friends.

The mouse said to the crow, ‘Will you fly over the trees and find the deer? Then fly back to us and tell us where he is.’ The crow flew away. He came back after half an hour. He said, ‘Our friend, the deer is in the hunter’s net.’

‘What shall we do’? said the mouse and the turtle. ‘I will take mouse on my back,’ said the crow. ‘He will bite through the net and set the deer free.’

‘Yes,’ said the mouse. I will do that.’

‘And I will walk to the deer,’ said the turtle. The crow took the mouse on his back and flew with him to the deer.

The mouse bit through the net so that deer was free. The turtle managed to see them all and they were very happy together.

Terjemah

Empat Sekawan

Pada suatu hari ada empat sekawan yang berteman baik,  yaitu seekor rusa, burung gagak, tikus, dan kura-kura.

Suatu hari rusa keluar untuk mencari makan rumput. Dia tiba tiba ditangkap di jaring pemburu. Inilah yang membuat si rusa tidak kembali ke teman-temannya.

Tikus berkata kepada burung gagak, “Maukah kamu terbang di atas pohon dan menemukan rusa? Kemudian kembali ke kami dan beri tahu kami di mana dia. “

Burung gagak bergegas mencari rusa. Dia kembali setelah setengah jam. Dia berkata, “Teman kita, rusa, ada di jaring pemburu.”

‘Apa yang harus kita lakukan’? kata tikus dan kura-kura.

“Aku akan membawa tikus di punggungku,” kata gagak. “Dia akan menggigit jaring dan membebaskan rusa.”

“Ya,” kata tikus. Aku akan melakukannya.’

“Dan aku akan berjalan ke rusa,” kata kura-kura. Burung gagak bersama tikus di punggungnya terbang untuk menyelamatkan Rusa.

Tikus menggigit jaring-jaring jebakan dan Rusa itu bebas. Si kura-kura berhasil bertemu dengan mereka dan sangat senang karena bisa berkumpul lagi.

The Two Men

A voyaging ship was wrecked during a storm at sea and only two of the men on it were able to swim to a small, desert like island.

The two survivors who have been a good friends, not knowing what else to do, agreed that they had no other recourse but to pray to God. However, to find out whose prayer was more powerful, they agreed to divide the territory between them and stay on opposite sides of the island.

The first thing they prayed for was food. The next morning, the first man saw a fruit-bearing tree on his side of the land, and he was able to eat its fruit. The other man’s parcel of land remained barren.

After a week, the first man was lonely and he decided to pray for a wife. The next day, another ship was wrecked, and the only survivor was a woman who swam to his side of the land. On the other side of the island, there was nothing.

Soon the first man prayed for a house, clothes, more food. The next day, like magic, all of these were given to him. However, the second man still had nothing.

Finally, the first man prayed for a ship, so that he and his wife could leave the island. In the morning, he found a ship docked at his side of the island. The first man boarded the ship with his wife and decided to leave the second man on the island.

He considered the other man unworthy to receive God’s blessings, since none of his prayers had been answered.
As the ship was about to leave, the first man heard a voice from heaven booming, “Why are you leaving your companion on the island?”

“My blessings are mine alone, since I was the one who prayed for them,” the first man answered. “His prayers were all unanswered and so he does not deserve anything.”

“You are mistaken!” the voice rebuked him. “He had only one prayer, which I answered. If not for that, you would not have received any of my blessings.”

“Tell me,” the first man asked the voice, “What did he pray for that I should owe him anything?”
“He prayed that all your prayers be answered “

Lesson: for all we know, our blessings are not the fruits of our prayers alone, but those of another praying for us. Value your friends, don’t leave your loved ones behind.

Terjemah

Dua Lelaki

Sebuah kapal pesiar hancur saat badai di laut dan hanya dua orang yang selamat dan mereka berenang ke pulau kecil nan gersang seperti gurun.

Dua orang yang selamat yang telah menjadi teman baik, tidak tahu harus berbuat apa lagi, dan kemudian setuju bahwa mereka tidak memiliki jalan lain selain berdoa kepada Tuhan. Namun, untuk mengetahui doa siapa yang lebih kuat, mereka sepakat untuk membagi wilayah di antara mereka dan tinggal di sisi yang berlawanan dari pulau itu.

Hal pertama yang mereka doakan adalah makanan. Pagi berikutnya, lelaki pertama melihat pohon berbuah di sisinya, dan dia bisa memakan buahnya. Tanah milik lelaki kedua tetap kering dan tidak subur.

Setelah seminggu, lelaki pertama merasa kesepian dan dia memutuskan untuk berdoa untuk seorang istri. Keesokan harinya, kapal lain tenggelam, dan satu-satunya yang selamat adalah seorang wanita yang berenang ke pulau tersebut. Di sisi lain pulau itu, tidak ada apa-apa yang ditemukan.

Segera pria pertama berdoa untuk sebuah rumah, pakaian, dan lebih banyak makanan. Keesokan harinya, seperti sihir, semua ini ia dapatkan. Namun, lelaki kedua masih belum memiliki apa-apa.

Akhirnya, lelaki pertama berdoa untuk sebuah kapal, sehingga dia dan istrinya bisa meninggalkan pulau itu. Di pagi hari, dia menemukan sebuah kapal berlabuh di sisi pulau. Laki-laki pertama naik kapal bersama istrinya dan memutuskan untuk meninggalkan lelaki kedua di pulau itu.

Dia menganggap lelaki kedia tidak layak untuk menerima berkat Tuhan, karena tidak ada doanya yang dijawab.

Ketika kapal hendak pergi, pria pertama mendengar suara dari surga yang menggelegar, “Mengapa kamu meninggalkan temanmu di pulau?”

“Berkah saya adalah milik saya sendiri, karena saya adalah orang yang berdoa untuk semua ini,” jawab pria pertama. “Doa-doanya semua tidak dijawab sehingga ia tidak pantas mendapatkan apa pun.”

“Kamu salah!” Suara itu menegurnya. “Dia hanya punya satu doa, yang saya jawab. Jika bukan karena itu, kamu tidak akan menerima berkah saya. ”

“Katakan padaku,” lelaki pertama bertanya pada suara itu, “Apa yang dia doakan agar aku harus berutang budi padanya?”

“Dia berdoa agar semua doamu terkabul”

Moral: Yang kita tahu, berkah kita bukanlah buah dari doa kita saja, tetapi berkat orang lain yang mendoakan kita (Doa Jemaat). Hargai temanmu dan jangan tinggalkan orang yang kamu cintai.

Triple Filter Test

In ancient Greece, Socrates was reputed to hold knowledge in high esteem. One day one fellow met the great philosopher and said, “Do you know what I just heard about your friend?”.

“Hold on a minute,” Socrates replied. “Before telling me anything I’d like you to pass a little test. It’s called the Triple Filter Test.”. “Triple filter?”. “That’s right,” Socrates continued. “Before you talk to me about my friend, it might be a good idea to take a moment and filter what you’re going to say. That’s why I call it the triple filter test.

The first filter is Truth. Have you made absolutely sure that what you are about to tell me is true?” “No,” the man said, “actually I just heard about it and…”. “All right,” said Socrates. “So you don’t know if it’s true or not.

Now let’s try the second filter, the filter of Goodness. Is what you are about to tell me about my friend something good?” . “No, on the contrary…”. “So,” Socrates continued, “you want to tell me something bad about him, but you’re not certain it’s true.

You may still pass the test though, because there’s one filter left: the filter of Usefulness. Is what you want to tell me about my friend going to be useful to me?” “No, not really.”

“Well,” concluded Socrates, “if what you want to tell me is neither true nor good nor even useful, why tell it to me at all?”

Terjemah

Tes Tiga Filter

Di Yunani kuno, Socrates terkenal memiliki pengetahuan tinggi. Suatu hari seorang rekan bertemu dengannya dan berkata, “Apakah Anda tahu apa yang saya dengar tentang teman Anda?”.

“Tunggu sebentar,” jawab Socrates. “Sebelum memberitahuku apa pun, aku ingin kamu lulus ujian kecil. Ini disebut Uji Tiga Filter. “. “Tes Tiga Filter?”. “Itu benar,” Socrates melanjutkan. “Sebelum Anda berbicara kepada saya tentang teman saya, mungkin suatu hal yang baik untuk mengambil waktu sejenak dan menyaring apa yang akan kamu katakan. Itu sebabnya saya menyebutnya tes tiga filter.

Filter pertama adalah Kebenaran. Apakah kamu benar-benar yakin bahwa apa yang akan kau sampaikan kepada saya? “” Tidak, “kata pria itu,” sebenarnya saya baru saja mendengarnya dan … “. “Baiklah,” kata Socrates. “Jadi, kamu tidak tahu apakah itu benar atau tidak.

Sekarang mari kita coba filter kedua, filter Kebaikan. Apakah kamu akan memberi tahu saya tentang teman saya sesuatu yang baik? “. “Tidak, sebaliknya …”. “Jadi,” Socrates melanjutkan, “kamu ingin memberi tahu saya sesuatu yang buruk tentang dia, tetapi kamu tidak yakin itu benar.

Kamu masih dapat lulus tes, karena hanya ada satu filter yang tersisa: filter Kegunaan. Apa yang ingin kamu katakan padaku tentang temanku akan berguna bagiku? “” Tidak, tidak juga. “

“Baiklah,” Socrates menyimpulkan, “jika apa yang ingin kamu sampaikan kepada saya tidak benar, tidak baik, atau bahkan tidak berguna, mengapa kamu ingin menceritakannya kepada?”

Pinku

Pinku, a little squirrel was fond of placing bets with her friend Tutu parrot. However she always felt disappointed, as she always lost the bet. Poor Pinku was forced to offer five of her favorite nuts in return.

All her friends advised her to avoid any further betting but Pinku used to remain silent with a faint smile.

Tutu had lost one of his paws in a sharp dense bush. Some of his wings had also been damaged, so he used to move with great effort and difficulty.

The entire group of squirrels always made fun of Pinku as she had not won even a single bet against Tutu.

There was a lot of activity and buzz around the jungle as winner of annual award for “LOVING AND KIND HEARTED SOUL” was to be announced.

Everyone in the forest was quite sure that like previous two years, the award was expected to go to Melody sparrow. Melody was known all around the jungle as kind and noble soul. She was always present whenever anyone needed her help.

When the winner was announced, the result was not surprising at all. The Jury had declared Melody as winner. Melody was called on the stage to receive her prize. When she arrived on stage, she announced-” I think, Pinku is a deserving winner this year.”

Everyone got surprised by this unexpected announcement.

King lion asked her-“but why?”

“Everyone knows that Tutu needs help because of his physical shortcomings. He even needs support to arrange his food. No one gives him company when he wants to play,” Melody replied.

“But no one has ever noticed that Pinku places a bet with Tutu everyday only to lose and share her nuts with him.”

Melody stopped and then said-” Has anyone ever thought why such a sharp squirrel who can run so fast loses a bet every single day to a helpless parrot?”

I bet no one here can defeat Pinku so easily..

The emotional words of Melody moved everyone to tears and everybody looked back to find Pinku standing in a corner gladly supporting Tutu.

And Then king Lion announced-“Come here Pinku. You deserve this award.”

Pinku smiled at Tutu and together they strolled towards the stage to receive the prize.

Terjemah

Pinku

Pinku, tupai kecil gemar menempatkan taruhan dengan temannya Tutu si burung beo. Namun dia selalu merasa kecewa, karena dia selalu kalah taruhan. Pinku yang malang terpaksa menawarkan lima kacang favoritnya sebagai imbalan.

Semua teman menyarankannya untuk menghindari taruhan lebih lanjut tetapi Pinku tetap bersikap diam dengan senyum tipis.

Tutu telah kehilangan salah satu cakarnya di semak-semak yang lebat. Beberapa sayapnya juga sudah terluka, jadi dia biasa bergerak dengan susah payah.

Seluruh kelompok tupai selalu mengolok-olok Pinku karena dia belum pernah menang bahkan bertaruh melawan Tutu.

Ada banyak kegiatan dan desas-desus di sekitar hutan sebagai pemenang penghargaan tahunan untuk “JIWA YANG BAIK HATI DAN MULIA” akan diumumkan.

Semua yang ada di hutan cukup yakin bahwa seperti dua tahun sebelumnya, penghargaan itu diharapkan diberikan kepada burung pipit Melody. Melody dikenal di seluruh hutan sebagai jiwa yang baik dan mulia. Dia selalu hadir setiap kali ada yang membutuhkan bantuan.

Ketika pemenang diumumkan, hasilnya tidak mengejutkan sama sekali. Juri telah menyatakan Melody sebagai pemenang. Melody dipanggil ke atas panggung untuk menerima hadiahnya. Ketika dia tiba di atas panggung, dia mengumumkan- “Saya pikir, Pinku adalah pemenang yang pantas tahun ini.”

Semua orang terkejut dengan pengumuman yang tidak terduga ini.

Raja singa bertanya padanya— “tapi mengapa?”

“Semua orang tahu bahwa Tutu membutuhkan bantuan karena kekurangan fisiknya. Dia bahkan membutuhkan dukungan untuk mengatur makanannya. Tidak ada yang menemaninya ketika dia ingin bermain, ”jawab Melody.

“Tapi tidak ada yang pernah memperhatikan bahwa Pinku bertaruh dengan Tutu setiap hari hanya untuk kalah dan berbagi kacang dengannya.”

Melody berhenti dan kemudian berkata- “Adakah yang pernah berpikir mengapa seekor tupai yang begitu tajam yang dapat berlari begitu cepat kehilangan taruhan setiap hari kepada burung nuri yang tak berdaya?”

Saya yakin tidak ada seorang pun di sini yang bisa mengalahkan Pinku dengan mudah ..

Kata-kata emosional Melody membuat setiap hewan menangis dan mereka menoleh ke belakang untuk menemukan Pinku yang berdiri di sudut dan dengan senang hati bersama Tutu.

Dan kemudian raja Singa mengumumkan – “Kemarilah Pinku. Anda layak mendapatkan penghargaan ini. “

Pinku tersenyum pada Tutu dan bersama-sama mereka berjalan menuju panggung untuk menerima hadiah.

Fiona Famous

Fiona Famous was a very popular girl at school. She was clever and fun, and got on well with everyone. It was no accident that Fiona was so popular. From an early age she had made an effort to be kind and friendly to everyone. She invited the whole class to her birthday party, and from time to time she would give presents to everybody. She was such a busy girl, with so many friends, that she hardly got a chance to spend time with individual friends. However, she felt very lucky; no other girl had so many friends at school and in the neighborhood.

But everything changed on National Friendship Day. On that day, at school, everyone was having a great time, drawing, painting, giving gifts. That day in class everyone had to make three presents to give to their three best friends. Fiona enjoyed the task of choosing three from amongst all the dozens of her friends.

However, when all the presents had been made and shared out among classmates, Fiona was the only one who had not received a present! She felt terrible, and spent hours crying. How could it be possible? So much effort to make so many friends, and in the end no one saw her as their best friend? Everyone came and tried to console her for a while. But each one only stayed for a short time before leaving.

This was exactly what Fiona had done so many times to others. She realized that she was a good companion and acquaintance, but she had not been a true friend to anyone. She had tried not to argue with anyone, she had tried to pay attention to everyone, but now she had found out that that was not enough to create true friendship.

When she got home that night , created quite a puddle with her tears, and Fiona asked her mother where she could find true friends.

“Fiona, my dear,” answered her mother, “you cannot buy friends with a smile or a few good words. If you really want true friends, you will have to give them real time and affection. For a true friend you must always be available, in good times and bad”.

“But I want to be everybody’s friend! I need to share my time among everyone!”, Fiona protested.

“My dear, you’re a lovely girl,” said her mother, “but you can’t be a close friend to everybody. There just isn’t enough time to be available for everyone, so it’s only possible to have a few true friends. The others will by playmates or acquaintances, but they won’t be close friends”.

Hearing this, Fiona decided to change her ways so that she could finally have some true friends. That night, in bed, she thought about what she could do to get them. She thought about her mother. Her mother was always willing to help her, she put up with all of Fiona’s dislikes and problems, she always forgave her, she loved her a great deal…
That was what makes friends!

And Fiona smiled from ear to ear, realizing that she already had the best friend anyone could ever want.

Terjemah

Fiona Famous

Fiona Famous adalah seorang gadis yang sangat populer di sekolah. Dia pintar. menyenangkan, dan mudah bergaul dengan semua orang. Tidak heran kalau Fiona begitu populer. Sejak usia dini dia telah berusaha untuk bersikap baik dan ramah kepada semua orang. Dia mengundang seluruh kelas ke pesta ulang tahunnya, dan dari waktu ke waktu dia akan memberikan hadiah kepada semua orang. Dia adalah gadis yang sibuk, dengan begitu banyak teman, sehingga dia hampir tidak punya kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama temannya secara privat atau dalam kelompok kecil. Namun, dia merasa sangat beruntung; tidak ada gadis lain yang memiliki begitu banyak teman di sekolah dan di lingkungan rumahnya.

Tetapi semuanya berubah pada Hari Persahabatan Nasional. Pada hari itu, di sekolah, semua orang bersenang-senang, menggambar, melukis, memberi hadiah. Hari itu di kelas semua orang harus membuat tiga hadiah untuk diberikan kepada tiga teman terbaik mereka. Fiona menikmati tugasnya untuk memilih tiga antara dari semua temannya.

Namun, ketika semua hadiah telah dibuat dan dibagikan di antara teman-teman sekelasnya, Fiona adalah satu-satunya yang belum menerima hadiah! Dia merasa sedih, dan menghabiskan berjam-jam menangis. Bagaimana mungkin? Begitu banyak upaya untuk mendapatkan banyak teman, dan pada akhirnya tidak ada yang melihatnya sebagai teman terbaik mereka? Semua orang datang dan mencoba menghiburnya sebentar. Tetapi masing-masing hanya tinggal sebentar sebelum akhirnya pergi meninggalkannya.

Ini persis seperti yang dilakukan Fiona berkali-kali pada orang lain. Dia menyadari bahwa dia adalah teman dan kenalan yang baik, tetapi dia belum menjadi teman sejati bagi siapa pun. Dia telah berusaha untuk tidak berdebat dengan siapa pun, dia telah mencoba untuk memperhatikan semua orang, tetapi sekarang dia telah menemukan bahwa itu tidak cukup untuk menciptakan persahabatan sejati.

Ketika dia sampai di rumah malam itu, dengan genangan air di matanya, Fiona bertanya kepada ibunya di mana dia bisa menemukan teman sejati.

“Fiona, sayangku,” jawab ibunya, “kamu tidak dapat membeli teman dengan senyum atau beberapa kata-kata yang bagus. Jika kamu benar-benar ingin teman sejati, kamu harus memberi mereka waktu dan kasih sayang yang nyata. Untuk teman sejati kamu harus selalu ada, di saat suka dan duka”.

“Tapi aku ingin menjadi teman semua orang! Aku harus membagi waktuku di antara semua orang!”, Protes Fiona.

“Sayangku, kamu gadis yang cantik,” kata ibunya, “tapi kamu tidak bisa menjadi teman dekat untuk semua orang. Hanya ada waktu yang tidak cukup untuk semua orang, jadi hanya mungkin untuk memiliki beberapa teman sejati. Yang lain hanya akan menjadi teman bermain atau kenalan, tetapi mereka tidak akan menjadi teman dekat”.

Mendengar ini, Fiona memutuskan untuk mengubah caranya sehingga dia akhirnya bisa memiliki beberapa teman sejati. Malam itu, di tempat tidur, dia memikirkan apa yang bisa dia lakukan untuk mendapatkannya. Dia memikirkan ibunya. Ibunya selalu bersedia membantunya, dia tahan dengan semua ketidaksukaan dan masalah Fiona, dia selalu memaafkannya, dia sangat mencintainya …Itulah cara menjalin pertemanan sejati! Dan Fiona tersenyum lebar, menyadari bahwa dia sudah memiliki sahabat terbaik yang pernah ada.

Cerpen Bahasa Inggris Tentang Sekolah dan Artinya

Cerpen Tentang Sekolah

Cerpen bahasa Inggris tentang sekolah biasanya mengisahkan apapun yang terjadi di lingkungan sekolah. Hal itu bisa mencakup murid, guru, atau tugas dan kegiatan sekolah. Cerpen pendidikan mengajarkan kita tentang pentingnya sekolah dan pendidikan untuk kehidupan. Meskipun dibangun dengan berbagai latar belakang cerita yang berbeda, namun inti pesannya sama, yaitu untuk tetap rajin belajar saat sekolah. Berikut adalah kumpulan cerpen dan artinya yang mengangkat tema “Sekolah”.

A Different Kind of School

I had heard a great deal about Miss Beam’s school. But not till last week did the chance come to visit it. When I arrived there was no one in sight but a girl of about twelve. Her eyes were covered with a bandage and she was being led carefully between the flower-beds by a little boy who was about four years younger. She stopped and it looked like she asked him who had come. He seemed to be describing me to her. Then they passed on.

Miss Beam was all that I had expected – middle-aged, full of authority, yet kindly and understanding. Her hair was beginning to turn grey and she had the kind of plump figure that is likely to be comforting to a homesick child. I asked her some questions about her teaching methods which I had heard were simple.

“No more than is needed to help them to learn how to do things – simple spelling, adding, subtracting, multiplying and writing. The rest is done by reading to them and by interesting talks during which they have to sit still and keep their hands quiet. There are practically no other lessons.”

“The real aim of this school is not so much to teach thought as to teach thoughtfulness – kindness to others and being responsible citizens. Look out of the window a minute, will you?”

I went to the window which overlooked a large garden and a playground at the back. “What do you see?” Miss Beam asked.

“I see some very beautiful grounds,” I said, “and a lot of jolly children. It pains me, though, to see that they are not all so healthy and active-looking. When I came in, I saw one poor little girl being led about. She has some trouble with her eyes. Now I can see two more with the same difficulty. And there’s a girl with a crutch watching the others at play. She seems to be a hopeless cripple.”

Miss Beam laughed. “Oh, no!” she said. “She’s not really lame. This is only her lame day. The others are not blind either. It is only their blind day.” I must have looked very surprised, for she laughed again.

“This is a very important part of our system. To make our children appreciate and understand misfortune, we make them share in misfortune too. Each term every child has one blind day, one lame day, one deaf day, one injured day and one dumb day. During the blind day their eyes are bandaged absolutely and they are on their honour not to peep. The bandage is put on overnight so they wake blind. This means that they need help with everything. Other children are given the duty of helping them and leading them about. They all learn so much this way – both the blind and the helpers.

“There is no misery about it,” Miss Beam continued. “Everyone is very kind and it is really something of a game. Before the day is over, though, even the most thoughtless child realizes what misfortune is.

“The blind day is, of course, really the worst, but some of the children tell me that the dumb day is the most difficult. We cannot bandage the children’s mouths, so they really have to exercise their will-power. Come into the garden and see for yourself how the children feel about it.”

Miss Beam led me to one of the bandaged girls. “Here’s a gentleman come to talk to you,” said Miss Beam and left us.

“Don’t you ever peep?” I asked the girl.

“Oh, no!” she exclaimed. “That would be cheating! But I had no idea it was so awful to be blind. You can’t see a thing. You feel you are going to be hit by something every moment. It’s such a relief just to sit down.”

“Are your helpers kind to you?” I asked.

“Fairly. But they are not as careful as I shall be when it is my turn. Those that have been blind already are the best helpers. It’s perfectly ghastly not to see. I wish you’d try.”

“Shall I lead you anywhere?” I asked.

“Oh, yes”, she said. “Let’s go for a little walk. Only you must tell me about things. I shall be so glad when today is over. The other bad days can’t be half as bad as this. Having a leg tied up and hopping about on a crutch is almost fun, I guess. Having an arm tied up is a bit more troublesome. because you can’t eat without help and things like that. I don’t think I’ll mind being deaf for a day – at least not much. But being blind is so frightening. My head aches all the time just from worrying that I’ll get hurt. Where are we now?”

“In the playground,” I said. “We’re walking towards the house. Miss Beam is walking up and down the garden with a tall girl.”

“What is the girl wearing?” my little friend asked in A Different Kind of School.

“A blue cotton skirt and a pink blouse.”

“I think it’s Millie?” she said. “What colour is her hair?”

“Very light,” I said.

“Yes, that’s Millie. She’s the Head Girl.”

“There’s an old man tying up roses,” I said.

“Yes, that’s Peter. He’s the gardener. He’s hundreds of years old!”

“And here comes a girl with curly red hair. She’s on crutches.”

“That’s Anita,” she said in A Different Kind of School.
And so we walked on. Gradually I discovered that I was ten times more thoughtful than I ever thought I could be. I also realized that if I had to describe people and things to someone else, it made them more interesting to me.

When I finally had to leave, I told Miss Beam that I was very sorry to go.

“Ah!” she replied, “then there is something in my system after all.”

Terjemah

Jenis Sekolah Yang Berbeda

Saya telah mendengar banyak tentang sekolahnya Nona Beam. Tetapi tidak sampai minggu lalu saat ada kesempatan untuk mengunjunginya. Ketika saya tiba, tidak ada seorang pun yang terlihat kecuali seorang gadis berusia sekitar dua belas tahun. Matanya tertutup perban dan dia dituntun dengan hati-hati di antara hamparan bunga oleh seorang anak lelaki yang berusia sekitar empat tahun lebih muda. Dia berhenti dan sepertinya dia bertanya siapa yang datang. Dia sepertinya menggambarkan aku padanya. Kemudian mereka berlalu.

Nona Beam sesuai apa yang saya bayangkan – setengah baya, penuh otoritas, namun ramah dan pengertian. Rambutnya mulai berubah menjadi abu-abu dan dia terlihat dalam sosok yang berisi yang cenderung menghibur anak yang rindu rumah. Saya mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya tentang metode pengajarannya yang saya dengar cukup sederhana.

“Tidak lebih dari yang dibutuhkan untuk membantu mereka belajar melakukan sesuatu – ejaan sederhana, menambah, mengurangi, mengalikan dan menulis. Sisanya dilakukan dengan membacakan sesuatu untuk mereka dan dengan cerita serta diskusi yang menarik di mana mereka harus duduk diam. Praktis dan tidak ada pelajaran lain. “

“Tujuan sebenarnya dari sekolah ini adalah untuk mengajarkan konsep seperti mengajarkan perhatian – kebaikan kepada orang lain dan menjadi warga negara yang bertanggung jawab. Lihatlah ke luar jendela sebentar, maukah? “

Saya pergi ke jendela yang menghadap ke taman besar dan taman bermain di belakang. “Apa yang kau lihat?” Tanya Miss Beam.

“Aku melihat suasana yang sangat indah,” kataku, “dan banyak anak yang periang. Namun, menyakitkan bagiku untuk melihat bahwa mereka tidak semuanya sehat dan berpenampilan aktif. Ketika aku masuk, aku melihat seorang yang malang.” gadis yang sedang dituntun tadi. Dia memiliki masalah dengan matanya. Sekarang aku bisa melihat dua lagi dengan kesulitan yang sama. Dan ada seorang gadis dengan kruk melihat yang lain bermain. Dia nampak seperti orang lumpuh tanpa harapan. “

Nona Beam tertawa. “Oh, tidak!” Katanya, “Dia tidak benar-benar lumpuh. Ini hanya hari dimana dia menjadi pincang. Yang lain juga tidak buta. Ini hanya hari buta mereka.” Aku sangat terkejut, karena dia tertawa lagi.

“Ini adalah bagian yang sangat penting dari sistem kami. Untuk membuat anak-anak kita menghargai dan memahami kemalangan, kita membuat mereka juga mengalami kemalangan. Setiap anak akan memiliki satu hari buta, satu hari lumpuh, satu hari tuli, satu hari terluka dan satu hari bodoh. Selama hari buta mata mereka dibalut secara absolut dan mereka merasa terhormat untuk tidak mengintip. Perban dikenakan malam sebelumnya sehingga mereka bangun dalam keadaan buta. Ini berarti mereka membutuhkan bantuan untuk melakukan segalanya. Anak-anak lain diberi tugas untuk membantu mereka dan membimbing mereka. Mereka semua belajar banyak dengan cara ini – baik yang menjadi orang buta maupun orang yang membantu.

“Tidak ada kesengsaraan tentang hal itu,” lanjut Miss Beam. “Semua orang sangat baik dan ini benar-benar permainan. Namun, sebelum hari itu berakhir, bahkan anak yang paling ceroboh pun menyadari apa itu kemalangan.

“Hari buta, tentu saja, benar-benar yang terburuk, tetapi beberapa anak mengatakan kepada saya bahwa hari bodoh adalah yang paling sulit. Kita tidak bisa membalut mulut anak-anak, sehingga mereka benar-benar harus menggunakan kekuatan keinginan mereka. Datanglah ke taman dan lihat sendiri bagaimana perasaan anak-anak tentang hal itu. “

Nona Beam membawaku ke salah satu gadis yang diperban. “Ini seorang pria datang untuk berbicara denganmu,” kata Miss Beam dan meninggalkan kami.

“Apakah kamu tidak pernah mengintip?” Aku bertanya pada gadis itu.

“Oh, tidak!” Serunya. “Itu akan menipu! Tapi aku tidak tahu itu sangat mengerikan untuk menjadi buta. Kamu tidak dapat melihat apa-apa. Kamu merasa akan dihantam oleh sesuatu setiap saat. Itu adalah hal yang menenangkan hanya untuk duduk. “

“Apakah orang yang membantumu baik kepadamu?” Saya bertanya.

“Cukup adil. Tetapi mereka tidak berhati-hati seperti saya ketika giliran saya tiba. Mereka yang tadinya buta adalah yang terbaik dalam membantu. Sangat mengerikan untuk tidak melihat. Saya harap kamu akan mencobanya. “

“Bolehkah aku menuntunmu?” Tanyaku.

“Oh, ya”, katanya. “Mari kita berjalan-jalan sedikit. Namun kamu yang harus memberitahuku tentang hal-hal disekitarku. Aku akan sangat senang ketika hari ini berakhir. Hari-hari buruk lainnya tidak bisa setengah seburuk ini. Memiliki sebuah kaki diikat dan melompat-lompat di atas kruk hampir menyenangkan, saya kira memiliki lengan diikat sedikit lebih merepotkan, karena kamu tidak bisa makan tanpa bantuan dan hal-hal seperti itu. Saya tidak berpikir saya akan keberatan tuli selama sehari – setidaknya tidak banyak. Tapi menjadi buta begitu menakutkan. Kepalaku sakit sepanjang waktu hanya karena khawatir aku akan terluka. Di mana kita sekarang? “

“Di taman bermain,” kataku. “Kita sedang berjalan menuju rumah. Miss Beam berjalan mondar-mandir di taman dengan seorang gadis jangkung.”

“Apa yang dikenakan gadis itu?” Tanya teman kecilku.

“Rok katun biru dan blus merah muda.”

“Saya pikir itu Millie?” Katanya. “Apa warna rambutnya?”

“cukup terang,” kataku.

“Ya, itu Millie. Dia adalah Ketua kelas. “

“Ada seorang lelaki tua yang mengikat mawar,” kataku.

“Ya, itu Peter. Dia tukang kebun. Umurnya ratusan tahun! “

“Dan inilah seorang gadis dengan rambut merah keriting. Dia memakai kruk. “

“Itu Anita,” katanya.

Maka kami pun berjalan. Perlahan-lahan saya menemukan bahwa saya sepuluh kali lebih berpikir daripada yang saya kira. Saya juga menyadari bahwa jika saya harus menggambarkan orang dan hal-hal kepada orang lain, itu membuat mereka lebih menarik bagi saya.

Ketika akhirnya saya harus pergi, saya memberi tahu Nona Beam bahwa saya sangat terkesan dengan sekolah ini.

“Ah!” Jawabnya, “maka ada sesuatu dalam sistem pikiran saya akhirnya.”

Who did Patrick Homework ?

Patrick never did homework. “Too boring,” he said. He played hockey and basketball and Nintendo instead. His teachers told him, “Patrick! Do your homework or you won’t learn a thing.” And it’s true. Sometimes he did feel like an ignoramus. But what could he do? He hated homework.

Then one day he found his cat playing with a little doll and he grabbed it away. To his surprise it wasn’t a doll at all, but a man of the tiniest size. He had a little wool shirt with old fashioned britches and a high tall hat much like a witch’s. He yelled, “Save me! Don’t give me back to that cat. I’ll grant you a wish. I promise you that.”

Patrick couldn’t believe how lucky he was! Here was the answer to all of his problems. So he said, “Only if you do all my homework till the end of the semester, that’s 35 days. If you do a good enough job, I could even get A’s.”

The little man’s face wrinkled like a dishcloth thrown in the hamper. He kicked his legs and doubled his fists and he grimaced and scowled and pursed his lips, “Oh, am I cursed! But I’ll do it.”

And true to his word, that little elf began to do Patrick’s homework. Except there was one glitch. The elf didn’t always know what to do and he needed help. “Help me! Help me!” he’d say. And Patrick would have to help — in whatever way.

“I don’t know this word,” the elf squeaked while reading Patrick’s homework. “Get me a dictionary. No, what’s even better, look up the word and sound it out by each letter.”

When it came to maths, Patrick was out of luck. “What are times tables?” the elf shrieked. “We elves never need that. And addition and subtraction and division and fractions? Here, sit down beside me, you simply must guide me.” Elves know nothing of human history. To them it’s a mystery. So the little elf, already a shouter, just got louder. “Go to the library, I need books. More and more books. And you can help me read them too.”

As a matter of fact, every day in every way that little elf was a nag! Patrick was working harder than ever and was it a drag! He was staying up nights, had never felt so weary, was going to school with his eyes puffed and bleary.

Finally, the last day of school arrived and the elf was free to go. As for homework, there was no more, so he quietly and slyly slipped out the back door.

Patrick got his A’s. His classmates were amazed. His teachers smiled and were full of praise. And his parents?

They wondered what had happened to Patrick. He was now the model kid. Cleaned his room, did his chores, was cheerful, never rude, like he had developed a whole new attitude.

You see, in the end, Patrick still thought he’d made that tiny man do all his homework. But I’ll share a secret just between you and me. It wasn’t the elf. Patrick had done it himself!

Terjemah

Siapa yang Mengerjakan PR Patrick?

Patrick tidak pernah mengerjakan PR nya. “Terlalu membosankan,” katanya. Dia bermain hoki dan bola basket dan Nintendo sebagai gantinya. Guru-gurunya mengatakan kepadanya, “Patrick! Kerjakan PR mu atau kamu tidak akan belajar apa-apa.” Dan itu benar. Terkadang dia merasa seperti orang bodoh. Tapi apa yang bisa dia lakukan? Dia membenci yang namanya PR.

Kemudian suatu hari dia menemukan kucingnya sedang bermain dengan boneka kecil dan dia mengambilnya. Yang mengejutkannya, itu sama sekali bukan boneka, tetapi lelaki dengan ukuran sangat kecil. Dia memiliki kemeja wol kecil dengan britches kuno dan topi kerucut tinggi seperti penyihir. Pria kecil itu berteriak, “Selamatkan aku! Jangan kembalikan aku ke kucing itu. Aku akan mengabulkan permintaanmu. Aku berjanji.”

Patrick tak menyangka betapa beruntungnya dia! Inilah jawaban untuk semua masalahnya. Jadi dia berkata, “Hanya jika kamu mengerjakan semua PR saya sampai akhir semester, itu adalah 35 hari. Jika kamu melakukannya dengan baik, saya bahkan bisa mendapatkan nilai A. “

Wajah lelaki kecil itu berkerut seperti serbet yang dilemparkan ke keranjang. Dia menendang kakinya dan menggandakan tinjunya dan dia meringis dan merengut dan mengerutkan bibirnya, “Oh, apakah aku dikutuk! Tapi aku akan melakukannya. “

Dan sesuai dengan kata-katanya, peri kecil itu mulai melakukan pekerjaan rumah Patrick. Kecuali ada satu kesalahan karena peri tidak selalu tahu apa yang harus dilakukan dan dia membutuhkan bantuan. “Tolong aku! Bantu aku! “Katanya. Dan Patrick harus membantu – dengan cara apa pun.

“Aku tidak tahu kata ini,” peri pria mencicit saat membaca PR Patrick. “Bawakan aku kamus. Tidak, lebih baiknya, cari kata itu dan dengarkan dengan setiap huruf.”

Ketika berbicara soal matematika, Patrick kurang beruntung. “Apa itu tabel perkalian?” Peri itu menjerit. “Kami peri tidak pernah membutuhkan itu. Dan penambahan dan pengurangan dan pembagian dan fraksi? Di sini, duduk di sampingku, kamu hanya harus membimbing aku.” Peri tidak tahu apa-apa tentang sejarah manusia. Bagi mereka itu adalah misteri. Jadi peri kecil, yang sudah berteriak, semakin keras. “Pergi ke perpustakaan, aku butuh buku. Semakin banyak buku. Dan kamu dapat membantu saya membacanya juga. “

Faktanya, setiap hari dengan cara apa pun peri kecil itu cerewet! Patrick bekerja lebih keras dari sebelumnya dan itu sangat membosankan! Dia begadang semalaman, tidak pernah merasa begitu lelah, pergi ke sekolah dengan mata menggembung dan muram. Akhirnya, hari terakhir sekolah tiba dan peri bebas untuk pergi. Sedangkan untuk pekerjaan rumah, tidak ada lagi, jadi dia diam-diam dan licik menyelinap keluar dari pintu belakang.

Patrick mendapat nilai A-nya. Teman-teman sekelasnya kagum. Guru-gurunya tersenyum dan memberikan pujian.  Bagaimana dengan orang tuanya? Mereka bertanya-tanya apa yang terjadi pada Patrick. Dia sekarang adalah anak teladan. Membersihkan kamarnya, mengerjakan tugasnya, ceria, tidak pernah kasar, seperti dia telah mengembangkan sikap yang sama sekali baru.

Kalian tahu, pada akhirnya, Patrick masih berpikir dia membuat pria mungil itu melakukan semua PRnya. Tapi saya akan berbagi rahasia hanya antara kalian dan saya. Bukan peri yang mengerjakannya, melainkan Patrick telah melakukannya sendiri!

Story of Kanku

I was ten years old, when some people from a nearby government school came and told my parents that they should send me to a one-year education camp.

My parents replied, “What’s the use? Education never got us villagers anywhere. What good will it do to a girl? Girls should stay at home and learn household work. That comes in handy when they get married. And anyway, how can we send our child so far away all by herself for a whole year?”

But the people persuaded my parents. They said there would be about a hundred girls coming from different villages and all of them would be safe and taken care of well. My parents had to agree finally. They felt that if other families sent their girls, they would also have to.

My friend, Mala, was going too. We were the only two girls from our village, ‘Swaroop ka Talaab’. We would sit in the evenings and wonder how things would be in an unknown place. Once, Mala asked me, “Will there be any sand dunes there?” I didn’t understand her question. How could any place in the world not have sand dunes? I have traveled far with my goats, sat on hills and looked at the desert beyond. For miles and miles there is only sand.

The day before leaving home, I was very nervous. I had dreamt of going to this unknown place but I couldn’t imagine living without my parents and goats. They would surely miss me. My mother was sad too. With tears in her eyes, she packed my clothes and wrapped snacks for me.

When they took me away, I sobbed the whole way. I kept crying for the first few days in the camp. Then gradually, I started making friends with the other girls. There were so many girls. We would all study together, play together, eat together and sleep together. Sometimes, my parents would send me clothes and food with anyone who traveled that way. I also sent messages telling them not to worry and that I was well.

I studied hard and I sat for the examination at the end of the term. I passed the fifth standard examination. The teachers were very happy with me. I was happy too because it was time to go back home. But I was also sad as I would never again see the new friends I had made here.We hardly slept the last night in the camp. While we packed, we kept talking and crying as we would soon part.

When I went back home, I was a different person. My parents were overjoyed to see me and I met my goats again. Everyone in the village came and asked me how the camp was. When I told them how good it was and how much we had learnt, they decided to send their daughters the next time.

One evening, as Mala and I were sitting and talking about how much fun we had in the camp, I told her I wanted to go to school to study more. She said, “If you go, I will come too.”
There was good news for us very soon. A new school was coming up in the next village, just a kilometre away. We were so excited about it and pleaded with our parents so much that they finally had to give in and let us go.
We have been going to school for two years now. It’s great fun. I love reading books. I want to become a teacher when I grow up. I might even go to a city. There may not be any sand dunes there!
Story of Kanku – Adapted from A Little Story from Rajasthan

Terjemah

Kisah Kanku

Saya berusia sepuluh tahun ketika beberapa orang dari sekolah pemerintah terdekat datang dan memberi tahu orang tua saya bahwa mereka harus mengirim saya ke kamp pendidikan selama satu tahun.

Orang tua saya menjawab, “Apa gunanya? Pendidikan tidak pernah membuat kami penduduk desa menjadi lebih baik. Apa gunanya bagi seorang gadis? Anak perempuan harus tinggal di rumah dan belajar pekerjaan rumah tangga. Itu berguna ketika mereka menikah. Dan lagi pula, bagaimana kita bisa mengirim anak kita begitu jauh sendirian untuk satu tahun penuh? “

Tetapi orang-orang itu membujuk orang tua saya. Mereka mengatakan akan ada sekitar ratusan gadis yang datang dari desa yang berbeda dan semuanya akan aman dan dirawat dengan baik. Orang tua saya akhirnya setuju. Mereka merasa bahwa jika keluarga lain mengirim anak perempuan mereka, mereka juga harus melakukannya.

Teman saya, Mala, juga ikut. Kami adalah dua gadis dari desa kami yang berangkat ke kamp pndidikan, ‘Swaroop ka Talaab’. Kami duduk di malam hari dan bertanya-tanya bagaimana keadaan di tempat yang tidak diketahui. Suatu ketika, Mala bertanya kepada saya, “Apakah akan ada bukit pasir di sana?” Saya tidak mengerti pertanyaannya. Bagaimana mungkin ada tempat di dunia yang tidak memiliki bukit pasir? Saya telah bepergian jauh dengan kambing-kambing saya, duduk di bukit-bukit dan memandangi gurun di baliknya. Bermil-mil jauhnya hanya ada pasir.

Sehari sebelum meninggalkan rumah, saya sangat gugup. Saya bermimpi pergi ke tempat yang tidak dikenal ini tetapi saya tidak bisa membayangkan hidup tanpa orang tua dan kambing saya. Mereka pasti akan merindukanku. Ibu saya juga sedih. Dengan berlinangan air mata, dia mengepak pakaian saya dan membungkus makanan ringan untuk saya.

Ketika mereka mengantarkan saya pergi, saya terisak-isak sepanjang jalan. Saya terus menangis selama beberapa hari pertama di kamp. Kemudian secara bertahap, saya mulai berteman dengan gadis-gadis lain. Ada begitu banyak gadis. Kita semua akan belajar bersama, bermain bersama, makan bersama dan tidur bersama. Terkadang, orang tua saya mengirimi saya pakaian dan makanan kepada siapa saja yang bepergian melewati kamp. Saya juga mengirim pesan agar mereka tidak khawatir karena saya baik-baik saja.

Saya belajar dengan giat dan saya mengikuti ujian di akhir semester. Saya lulus ujian standar kelima. Para guru sangat senang dengan saya. Saya juga senang karena sudah waktunya untuk pulang. Tetapi saya juga sedih karena saya tidak akan pernah lagi melihat teman-teman baru yang saya kenal di sini.

Kami hampir tidak tidur malam terakhir di kamp. Sementara kami berkemas, kami terus bercerita dan menangis karena kami akan segera berpisah.

Ketika saya kembali ke rumah, saya adalah orang yang berbeda. Orang tua saya sangat senang melihat saya dan saya bertemu kambing saya lagi. Semua orang di desa datang dan bertanya kepada saya bagaimana hidup kamp itu. Ketika saya memberi tahu mereka betapa bagusnya dan seberapa banyak yang telah kami pelajari, mereka memutuskan untuk mengirim putri mereka di waktu berikutnya.

Suatu malam, ketika Mala dan saya duduk dan berbicara tentang betapa menyenangkannya kami di kamp, saya mengatakan kepadanya bahwa saya ingin pergi ke sekolah untuk belajar lebih banyak hal lagi. Dia berkata, “Jika kamu pergi, aku akan ikut juga.”

Tak lama kemudian, ada kabar baik bagi kami. Sebuah sekolah baru dibuka di desa sebelah, hanya satu kilometer jauhnya. Kami sangat gembira tentang hal itu dan memohon kepada orang tua kami sehingga mereka akhirnya mengizinkan dan membiarkan kami pergi.

Kami telah pergi ke sekolah selama dua tahun sekarang dan itu sangat menyenangkan. Saya suka membaca buku karena ingin menjadi guru ketika saya dewasa. Saya bahkan mungkin pergi ke kota. Mungkin tidak ada bukit pasir di sana!

Kisah Kanku – Diadaptasi dari A Little Story from Rajasthan

A Reward For Taro

A Young woodcutter named Taro lived with his mother and father on a lonely hillside. All day long he chopped wood in the forest. Though he worked very hard, he earned very little money. This made him sad, for he was a thoughtful son and wanted to give his old parents everything they needed.

One evening, when Taro and his parents were sitting in a corner of their hut, a strong wind began to blow. It whistled through the cracks of the hut and everyone felt very cold. Suddenly Taro’s father said, “I wish I had a cup of sake. It would warm me and do my old heart good.”

This made Taro sadder than ever, for the heart-warming drink called saké was very expensive. ‘How do I earn more money?’ he asked himself. ‘How do I get a little saké for my poor old father?’ He decided to work harder than before.

Next morning, Taro jumped out of bed earlier than usual and made his way to the forest. He chopped and cut, chopped and cut as the sun climbed and soon he was so warm that he had to take off his jacket. His mouth was dry and his face was wet with sweat. ‘My poor old father!’ he thought. ‘If only he was as warm as I!’

And with that he began to chop even faster, thinking of the extra money he must earn to buy the saké to warm the old man’s bones.

Then suddenly Taro stopped chopping. What was that sound he heard? Could it be…. could it possibly be rushing water?

Taro could not remember ever seeing or hearing a rushing stream in that part of the forest. He was thirsty. The axe dropped out of his hands and he ran in the direction of the sound.

Taro saw a beautiful little waterfall hidden behind a rock. Kneeling at a place where the water flowed quietly, he cupped a little in his hands and put it to his lips. Was it water? Or was it saké? He tasted it again and again and always it was the delicious saké instead of cold water.

Taro quickly filled the pitcher he had with him and hurried home. The old man was delighted with the saké. After only one swallow of the liquid he stopped shivering and did a little dance in the middle of the floor.

That afternoon a neighbour stopped by for a visit. Taro’s father politely offered her a cup of the saké. The lady drank it greedily and thanked the old man. Then Taro told her the story of the magic waterfall. Thanking them for the delicious drink, she left in a hurry. By nightfall she had spread the story throughout the whole village.

That evening there was a long procession of visitors to the woodcutter’s house. Each man heard the story of the waterfall and took a sip of the saké. In less than an hour the pitcher was empty.

Next morning, Taro started for work even earlier than the morning before. He carried with him the largest pitcher he owned, for he intended first of all to go to the waterfall. When he reached it, he found to his great surprise all his neighbours there. They were carrying pitchers, jars, buckets — anything they could find to hold the magic saké. Then one villager knelt and held his mouth under the waterfall to drink. He drank again and again and then shouted angrily, “Water! Nothing but water!” Others also tried. But there was no saké, only cold water.

“We have been tricked!” shouted the villagers. “Where is Taro? Let us drown him in this waterfall.” But Taro had been wise enough to slip behind a rock when he saw how things were going. He was nowhere to be found.

Muttering their anger and disappointment, the villagers left the place one by one. Taro came out from his hiding place. Was it true, he wondered? Was the saké a dream? Once more he caught a little liquid in his hand and put it to his lips. It was the same fine saké. To the thoughtful son, the magic waterfall gave the delicious saké. To everyone else, it gave only cold water.

The story of Taro and his magic waterfall reached the Emperor of Japan. He sent for the young woodcutter and rewarded him with twenty pieces of gold for having been so good and kind. Then he named the most beautiful fountain in the city after Taro. This, said the Emperor, was to encourage all children to honor and obey their parents.

Terjemah

Hadiah Untuk Taro

Seorang penebang kayu muda bernama Taro tinggal bersama ibu dan ayahnya di lereng bukit yang sepi. Sepanjang hari dia memotong kayu di hutan. Meskipun dia bekerja sangat keras, dia menghasilkan sedikit uang. Ini membuatnya sedih, karena ia adalah anak yang bijaksana dan ingin memberikan semua yang dibutuhkan orang tuanya.

Suatu malam, ketika Taro dan orang tuanya duduk di sudut gubuk mereka, angin kencang mulai berhembus. Angin bersiul melalui celah-celah pondok dan semua orang merasa kedinginan. Tiba-tiba ayah Taro berkata, “Seandainya aku punya secangkir sake, itu akan menghangatkan saya dan membuat hati saya menjadi lebih tenang. “

Hal ini membuat Taro lebih sedih dari sebelumnya, karena minuman yang menghangatkan hati yang disebut saké harganya sangatlah mahal. “Bagaimana cara saya mendapatkan lebih banyak uang?” Dia bertanya pada dirinya sendiri. ‘Bagaimana saya bisa mendapatkan saké kecil untuk ayah tua saya yang malang? ‘Dia memutuskan untuk bekerja lebih keras dari sebelumnya.

Pagi berikutnya, Taro bangun lebih awal dari biasanya dan berjalan ke hutan. Dia memotong dan terus memotong kayu ketika matahari naik dan segera dia begitu merasa hangat sehingga dia harus melepas jaketnya. Mulutnya kering dan wajahnya basah oleh keringat. “Ayahku yang malang!” Pikirnya. “Kalau saja dia sehangat aku!”

Dan dengan itu dia mulai memotong lebih cepat, memikirkan uang tambahan yang harus dia hasilkan untuk membeli saké demi menghangatkan tulang lelaki tua itu. Lalu tiba-tiba Taro berhenti memotong. Suara apa yang dia dengar? Mungkinkah…. mungkinkah air yang mengalir deras?

Taro tidak ingat pernah melihat atau mendengar aliran deras di bagian hutan itu. Karena dia haus, ia menjatuhkan kapak dari tangannya dan segera berlari ke arah suara aliran air.

Taro melihat air terjun kecil yang indah tersembunyi di balik batu. Berlutut di tempat air yangmengalir dengan tenang, dia menangkupkan sedikit di tangannya dan meletakkannya di bibirnya. Apakah itu air? Atau apakah itu saké? Dia mencicipinya lagi dan lagi dan ternyata itu adalah saké yang lezat alih-alih air dingin.

Taro dengan cepat mengisi kendi yang dia bawa dan bergegas pulang. Pria tua itu senang dengan saké. Setelah satu tegukan cairan, dia berhenti menggigil dan menari-nari kecil di atas lantai.

Sore itu seorang tetangga mampir untuk berkunjung. Ayah Taro dengan sopan menawarinya secangkir saké. Wanita itu meminumnya dengan rakus dan berterima kasih kepada lelaki tua itu. Kemudian Taro menceritakan kisah tentang air terjun ajaib. Setelah wanita itu berterima kasih kepada mereka untuk minuman yang lezat, dia pergi dengan tergesa-gesa. Menjelang malam dia menyebarkan cerita ke seluruh warga desa.

Malam itu banyak yang berkunjung ke rumah penebang kayu muda itu. Setiap orang mendengar kisah air terjun dan meneguk saké. Dalam waktu kurang dari satu jam, kendi sudah kosong.

Pagi berikutnya, Taro mulai bekerja bahkan lebih awal dari pagi sebelumnya. Dia membawa kendi terbesar yang dia miliki, karena dia ingin ke air terjun dulu. Ketika dia sampai di sana, dia sangat terkejut saat melihat semua tetangganya di sana. Mereka membawa kendi, toples, ember – apa saja yang bisa mereka temukan untuk mengambil saké ajaib. Kemudian seorang penduduk desa berlutut dan memegangi mulutnya di bawah air terjun untuk minum. Dia minum lagi dan lagi dan kemudian berteriak dengan marah, “Air! Tidak ada apa-apa selain air! “Yang lain juga mencoba. Tetapi tidak ada saké, hanya air dingin.

“Kita telah ditipu!” Teriak penduduk desa. “Di mana Taro? Mari kita menenggelamkannya di air terjun ini.” Tapi Taro cukup cerdik untuk menyelinap di balik batu ketika dia melihat bagaimana keadaan yang sedang terjadi sehingga dia tidak ditemukan.

Menggumamkan kemarahan dan kekecewaan mereka, para penduduk desa meninggalkan tempat itu satu per satu. Taro keluar dari tempat persembunyiannya. Benarkah yang dikatakan mereka, dia bertanya-tanya, Apakah saké itu mimpi? Sekali lagi dia menangkap air di tangannya dan menaruhnya di bibir. Itu saké baik yang sama. Menurutnya, air terjun ajaib memberi saké yang lezat. Bagi orang lain, itu hanya memberi air dingin.

Kisah Taro dan air terjun ajaibnya terdengar hingga ke Kaisar Jepang. Dia memanggil penebang kayu muda itu dan menghadiahinya dua puluh keping emas karena begitu baik. Lalu ia menamai air mancur yang paling indah di kota itu Taro. Kata kaisar ini adalah untuk mendorong semua anak agar menghormati dan menaati orang tua mereka.

Cerpen Bahasa Inggris Tentang Cinta dan Artinya

Cerpen Tentang Cinta

Cerpen tentang cinta merupakan cerpen dengan jangkauan yang luas baik daro segi usia maupun tema. Cinta tidak harus selalu tentang kekasih atau pacar. Cinta bisa juga diartikan sebagai rasa kasih dan sayang serta peduli. Oleh karena itu, cerpen cinta bisa juga mengisahkan tentang hubungan keluarga, teman, sahabat dan juga kekasih. Selain itu cerpen cinta juga bisa dinikmati oleh berbagai usia dari anak-anak hingga orang dewasa dengan tema tertentu. Selain itu, cerpen cinta juga ada yang happy ending dan sad ending. Inilah beberapa contoh cerpen tentang cinta dalam bahasa Inggris dan artinya.

Eternal Love

One day at work, Amanda received a beautiful flower bouquet. In it, she counted 11 flowers and found a short note in it. It was written in beautiful lettering and said:

“My love for you will last until the day the last flower in this bouquet dies.”

The note was from her husband who had gone on a business trip. Unsure as to what to make of the message, she went home in the evening and soaked the flowers with water. One day after another, the flowers became a little less beautiful until they all died. All but one flower. This was the day when she realized that there was one artificial flower in the bouquet that would last forever.

Terjemah

Cinta Abadi

Suatu hari di tempat kerja, Amanda menerima buket bunga yang indah. Di dalamnya, ia menghitung ada 11 bunga dan menemukan catatan pendek di dalamnya. Itu ditulis dalam huruf yang indah dan berkata:

“Cintaku padamu akan bertahan sampai hari dimana bunga terakhir di karangan bunga ini mati.”

Surat itu dari suaminya yang sedang melakukan perjalanan bisnis. Tidak yakin apa yang harus disampaikan, dia pulang pada malam hari dan merendam bunga dengan air. Hari demi hari, bunga-bunga menjadi sedikit kurang indah sampai mereka semua mati. Semua kecuali ada satu bunga yang bertahan. Ini adalah hari ketika dia menyadari bahwa ada satu bunga tiruan di buket yang akan bertahan selamanya.

The Bicycle Ride

It is the year 1975, when Charlotte Von Sledvin, a 19-year-old student of a Swedish royal family, travels to India to get a portrait made by a gifted artist. The artist was born into a poor Indian family of the lowest caste, also known as the “untouchables.” Despite the incredibly difficult circumstances, the artist named Pradyumna Kumar Mahanandia had gained an outstanding reputation for being a gifted painter. His reputation led Charlotte Von Sledvin to travel all the way to India to get her portrait done.

By the time the portrait was finished, the two had fallen in love. Pradyumna was fascinated with Charlotte’s beauty. Never before had he seen a more beautiful woman from the Western world. He gave his best to capture all her beauty in the portrait, yet never fully succeeded. Nonetheless, the portrait was magnificent and Charlotte fell for his simplicity and his beautiful character. Because of him, she spontaneously decided to stay longer in India. Out of a couple of days became weeks and then even months. The two had fallen so deeply in love that they decided to get married according to traditional Indian rituals.

Unfortunately, the time came when Charlotte had to leave again in order to complete her studies in London. Thousands of miles separated the two but their feelings for each other never changed. They stayed in contact through letters, which they exchanged almost weekly with each other. Naturally, the newlyweds terribly struggled with the great distance between each other. Charlotte offered her husband to buy him air tickets, which he refused. He had not only decided to complete his studies first, but he had also set his mind on reuniting with the love of his life on his own terms. He even made her the promise that he would do anything he can to see her again.

After Pradyumna had finished his studies, he took all his possessions and sold them. Unfortunately, the money he earned didn’t even come close to a flight ticket. All he could afford was a cheap and used bicycle. Many would have been greatly disappointed, some would have even given up. But not Pradyumna. Instead of allowing the difficult circumstances to stop him from seeing his beloved wife again, he met the decision to use what he had in order to see her again. Nothing could stop him from reuniting with his wife, even if that meant an exhausting bicycle ride half around the world.

His decision was the beginning of a bicycle journey from India to the Western world. Pradyumna took all his paintings and brushes along with him in order to financially support his endeavor. His voyage led him through eight countries and took more than four months. But eventually, he arrived at Charlotte’s hometown in Sweden and finally saw her again. From then on, the two did never leave each other’s side for too long.

Terjemah

Mengendarai Sepeda

Di tahun 1975,  Charlotte Von Sledvin, seorang siswa 19 tahun dari keluarga kerajaan Swedia, melakukan perjalanan ke India untuk mendapatkan lukisan yang dibuat oleh seorang seniman berbakat. Seniman ini terlahir dalam keluarga miskin India dengan kasta terendah, juga dikenal sebagai “tak tersentuh.” Terlepas dari keadaan yang sangat sulit, seniman bernama Pradyumna Kumar Mahanandia telah mendapatkan reputasi luar biasa sebagai pelukis berbakat. Reputasinya membuat Charlotte Von Sledvin melakukan perjalanan jauh ke India untuk mendapatkan lukisannya.

Pada saat lukisan itu selesai, keduanya jatuh cinta. Pradyumna terpesona dengan kecantikan Charlotte. Belum pernah ia melihat wanita yang lebih cantik yang berasal dari dunia Barat. Dia memberikan yang terbaik untuk menangkap semua kecantikannya di lukisan, namun tidak pernah sepenuhnya berhasil. Meskipun demikian, hasil lukisannya luar biasa dan Charlotte menyukai kesederhanaan dan karakternya yang cantik. Karena seniman India ini, Charlotte secara spontan memutuskan untuk tinggal lebih lama di India. Hari menjadi berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Keduanya jatuh cinta satu sama lain sehingga mereka memutuskan untuk menikah sesuai dengan tradisi India.

Sayangnya, ada saatnya ketika Charlotte harus pergi lagi untuk menyelesaikan studinya di London. Ribuan mil memisahkan keduanya, tetapi perasaan mereka satu sama lain tidak pernah berubah. Mereka tetap berhubungan melalui surat, yang bertukar hampir setiap minggu. Umumnya, pengantin baru sangat merasa kesulitan dengan hubungan jarak jauh. Charlotte menawari suaminya untuk membelikannya tiket pesawat, namun ia menolaknya. Dia tidak hanya memutuskan untuk menyelesaikan studinya terlebih dahulu, tetapi dia juga telah memutuskan untuk bersatu kembali dengan cinta dalam hidupnya dengan persyaratannya sendiri. Dia bahkan membuat janji padanya bahwa dia akan melakukan apa saja untuk menemuinya lagi.

Setelah Pradyumna menyelesaikan studinya, ia mengambil semua harta miliknya dan menjualnya. Sayangnya, uang yang ia peroleh bahkan tidak cukup untuk membeli tiket penerbangan. Yang dia mampu hanyalah sepeda murah dan bekas. Banyak yang akan sangat kecewa, beberapa bahkan akan menyerah dengan keadaan seperti ini, tapi bukan bagi Pradyumna. Alih-alih membiarkan keadaan sulit untuk menghentikannya bertemu sang istri tercintanya lagi, dia memutuskan untuk menggunakan apa yang dia miliki untuk melihatnya lagi. Tidak ada yang bisa menghentikannya untuk bersatu kembali dengan istrinya, bahkan jika itu harus naik sepeda yang melelahkan ke seluruh dunia.

Keputusannya ini adalah awal dari perjalanan sepeda dari India ke dunia Barat. Pradyumna membawa serta semua lukisan dan kuasnya untuk mendukung keuangannya. Perjalanannya membawanya ke delapan negara dan membutuhkan waktu lebih dari empat bulan. Akhirnya, ia tiba di kota Charlotte di Swedia dan melihatnya lagi. Sejak saat itu, keduanya tidak pernah meninggalkan satu sama lain terlalu lama.

Accident With a Happy Ending

When Frank’s wife had a car accident, she was so injured that she fell into a coma. Years passed but Frank did not stop visiting his wife at the hospital. Even though almost everyone – including the doctors – had given up hope, he remained faithful that she would one day recover. Every time he visited her, he began talking to her, recounting all those beautiful moments they spend with each other. One day, when he showed her the video of their wedding day, she slowly began to move her hand. She whispered his name and began gaining consciousness. Several weeks after she had woken up, she had fully recovered and was finally allowed to leave the hospital for good. When the couple left, she told Frank that she heard his voice while she was in a coma and that it was his voice that was the greatest aid in helping her to return to consciousness.

Terjemah

Kecelakaan Dengan Akhir yang Bahagia

Ketika istri Frank mengalami kecelakaan mobil, dia sangat terluka sehingga dia koma. Tahun-tahun berlalu tetapi Frank tidak berhenti mengunjungi istrinya di rumah sakit. Meskipun hampir semua orang – termasuk dokter – telah menyerah, dia tetap setia bahwa suatu hari istrinya akan pulih. Setiap kali dia mengunjunginya, dia mulai berbicara dengannya, menceritakan semua momen indah yang mereka habiskan bersama. Suatu hari, ketika dia menunjukkan padanya video hari pernikahan mereka, dia perlahan mulai menggerakkan tangannya. Dia membisikkan namanya dan mulai mendapatkan kesadaran. Beberapa minggu setelah dia bangun, dia pulih sepenuhnya dan akhirnya diizinkan meninggalkan rumah sakit untuk selamanya. Ketika pasangan itu pergi, dia memberi tahu Frank bahwa dia mendengar suaranya ketika dia dalam keadaan koma dan bahwa suaranya yang paling membantu dalam membantu dia untuk kembali ke kesadaran.

Love Letters From the Caribbean

In 1907, David Hurd moved from his hometown in Jamaica to New York City. The migration wasn’t easy for the young man and he became terribly homesick. He missed his hometown and the company of his friends. In order to distract himself, David Hurd began searching for a potential pen-friend from his homeland. He found a woman called Avril Cato from the Caribbean who was interested in establishing a correspondence with him.

The two slowly got to know each other, with one letter after the other. One year later, the two had fallen in love with each other, without having ever met. Seven years later, Avril and David met for the first time. It was the day before their wedding, as David had proposed to her shortly before. The two married and had six children.

Terjemah

Surat Cinta dari Karibia

Pada tahun 1907, David Hurd pindah dari kota asalnya di Jamaika ke New York City. Migrasi itu tidak mudah bagi pemuda itu dan ia menjadi sangat rindu rumah. Dia merindukan kota asalnya dan ditemani teman-temannya. Untuk mengalihkan perhatiannya, David Hurd mulai mencari sahabat pena yang potensial dari tanah kelahirannya. Dia menemukan seorang wanita bernama Avril Cato dari Karibia yang tertarik untuk membangun hubungan dengannya.

Keduanya perlahan saling mengenal, dengan satu  surat dan  yang lainnya. Satu tahun kemudian, keduanya jatuh cinta satu sama lain, tanpa pernah bertemu. Tujuh tahun kemudian, Avril dan David bertemu untuk pertama kalinya. Itu adalah hari sebelum pernikahan mereka, seperti yang diusulkan David kepadanya sesaat sebelumnya. Keduanya menikah dan memiliki enam orang anak.

A Heartwarming Farewell Gift

When Gene was diagnosed with melanoma, he had only been given six weeks left to live. It was a shocking diagnosis but Gene decided to use the time he had left to make all the necessary arrangements for his wife Carol, with whom he had been married for 30 years. He cashed out his pension and used the money to pay off the house they were living in. The second step was to arrange a trip for his wife Carol and the rest of the family to Italy. When they visited a specific church in Venice, a priest was already waiting for the couple. It was in this church that Gene’s parents had married more than 50 years ago. At that day, Gene and Carol renewed their wedding vows and had the most beautiful day.

After Gene had died, his wife Carol discovered that he hid hundreds of Post-it notes around the entire house, shortly before he died. Throughout the course of many months, she found one note after another. The notes are beautiful and very personal statements meant to encourage Carol in this difficult time. But Gene also reminded his wife in these statements to fully enjoy every aspect of life, to sell his car and to move on with her life. It was the most heartwarming farewell gift one could ever imagine.

Terjemah

Hadiah Perpisahan yang Mengharukan

Ketika Gene didiagnosis menderita melanoma, ia hanya diberi waktu enam minggu untuk hidup. Itu adalah diagnosis yang mengejutkan, tetapi Gene memutuskan untuk menggunakan waktu yang tersisa untuk melakukan semua hal yang diperlukan untuk istrinya, Carol, yang telah dinikahinya selama 30 tahun. Dia mencairkan pensiunnya dan menggunakan uang itu untuk melunasi rumah tempat mereka tinggal. Langkah kedua adalah mengatur perjalanan untuk istrinya, Carol, dan seluruh keluarga ke Italia. Ketika mereka mengunjungi gereja tertentu di Venesia, seorang pastor sudah menunggu pasangan itu. Di gereja inilah orang tua Gene menikah lebih dari 50 tahun yang lalu. Pada hari itu, Gene dan Carol memperbarui sumpah pernikahan mereka dan mengalami hari yang paling indah.

Setelah Gene meninggal, istrinya Carol menemukan bahwa dia menyembunyikan ratusan kertas tempel di seluruh rumah, tak lama sebelum dia meninggal. Selama berbulan-bulan, dia menemukan satu catatan demi satu. Catatan itu indah dan pernyataan yang sangat pribadi dimaksudkan untuk mendorong Carol di masa sulit ini. Tetapi Gene juga mengingatkan istrinya dalam pernyataan ini untuk sepenuhnya menikmati setiap aspek kehidupan, untuk menjual mobilnya dan melanjutkan kehidupannya. Itu adalah hadiah perpisahan yang paling mengharukan yang pernah dibayangkan.

The Evil of Millisphore

Once upon a time there was a villain who was so thoroughly evil that he devised a plan to destroy every important thing in the world. His name was Millisphore, and, helped by his great machines and inventions, he managed to ruin everything. After that, he created a potion that robbed people of their desire to work. He also managed to infect everyone with such a smelly gas that they preferred to stay at home rather than go out and risk meeting anyone.

When things had reached the point where the entire world had been spoilt, Millisphore saw that only one more thing stood in his way in his desire for complete domination, and this one thing was the family. Despite all his evil inventions, his potions and his gases, it seemed that families were still sticking together. What bothered him most was that all the families were resisting him, no matter how many people were in each one, where they lived, or how they spent their time.

He tried making the houses smaller, but the families just lived closer together in less space. He also destroyed food, but the families just shared what little they had. And so he continued with his wicked deeds against the last thing on the whole planet that still resisted him, but nothing was working.

Finally he discovered the secret to the strength of every family: they loved each other, and there was no way to change that. Though he tried to invent something to destroy this love, Millisphore never managed it. Sad and annoyed at not having managed to dominate the world, he gave up and let everything return to normality.

The evil Millisphore ended up so depressed that all he could think of to do was go crying to his parents’ house and tell them what had happened. And, despite all the wicked deeds he had done, his parents ran out to embrace him. They forgave him, and encouraged him to be good.

And so it is that even the family of the most wicked will love him and forgive him anything! And aren’t we fortunate to have a family?

Terjemah

Kejahatan Millisphore

Alkisah ada seorang penjahat yang benar-benar jahat sehingga dia menyusun rencana untuk menghancurkan setiap hal penting di dunia. Nama penjahat itu adalah Millisphore, dan, dibantu oleh mesin dan penemuannya yang hebat, ia berhasil menghancurkan segalanya. Setelah itu, ia menciptakan ramuan yang merampas keinginan orang untuk bekerja. Dia juga berhasil menginfeksi semua orang dengan gas bau sehingga mereka lebih suka tinggal di rumah daripada pergi keluar untuk bertemu siapa pun.

Ketika berbagai hal telah mencapai titik di mana seluruh dunia telah rusak, Millisphore melihat bahwa hanya satu hal lagi yang menghalangi keinginannya untuk menguasai sepenuhnya, dan itu adalah keluarga. Terlepas dari semua penemuan jahatnya, ramuannya dan gas-gasnya, tampaknya keluarga-keluarga masih bersatu. Yang paling mengganggunya adalah bahwa semua keluarga menentangnya, tidak peduli berapa banyak orang di masing-masing keluarga, di mana mereka tinggal, atau bagaimana mereka menghabiskan waktu mereka.

Dia mencoba membuat rumah-rumah menjadi lebih kecil, tetapi keluarga-keluarga hanya tinggal bersama lebih dekat dalam ruang yang lebih sedikit. Dia juga menghancurkan makanan, tetapi keluarga hanya membagikan sedikit yang mereka miliki. Maka ia melanjutkan dengan perbuatan jahatnya terhadap hal terakhir di seluruh planet yang masih menentangnya, tetapi tidak ada yang berhasil.

Akhirnya dia menemukan rahasia kekuatan setiap keluarga: mereka saling mencintai, dan tidak ada cara untuk mengubahnya. Meskipun dia mencoba untuk menciptakan sesuatu hal baru untuk menghancurkan cinta ini, Millisphore tidak pernah berhasil. Sedih dan jengkel karena tidak berhasil menguasai dunia, dia menyerah dan membiarkan semuanya kembali normal.

Millisphore yang jahat berakhir sangat tertekan sehingga yang bisa dia pikirkan adalah pergi ke rumah orangtuanya dan memberi tahu mereka apa yang telah terjadi. Terlepas dari semua perbuatan jahat yang telah ia lakukan, orang tuanya berlari untuk memeluknya. Mereka memaafkannya, dan mendorongnya untuk menjadi lebih baik.

Dan begitulah, bahkan keluarga orang yang paling jahat akan mencintainya dan memaafkan apa pun yang telah terjadi. Dan bukankah kita beruntung memiliki keluarga?

The Princess of Fire

There was once and incredibly rich, beautiful, and wise Princess. Tired of false suitors who were only interested in her money, she announced that she would only marry whoever managed to present her with the most valuable, tender, and sincere gift of all.
The palace filled up with flowers and gifts of every kind, letters describing undying love, and love-struck poems. Among all these wonderful gifts, she found a pebble, a simple dirty pebble. Intrigued, she demanded to see whoever it was who had offered this gift. Despite her curiosity, she pretended to be highly offended by the gift when the young man was brought before her. He explained it to her like this,

“Dear Princess, this pebble represents the most valuable thing one can give – it is my heart. It is also sincere, because it is not yet yours, and it is as hard as a stone. Only when it fills with love will it soften and be more tender than any other.”

The young man quietly left, leaving the Princess surprised and captivated. She fell so in love that she took the little pebble with her wherever she went, and for months she regaled the young man with gifts and attention. But his heart remained as hard as the stone in her hands. Losing hope, she ended up throwing the pebble into a fire. In the heat of the fire, the sand crumbled from around it, and from out of that rough stone a beautiful golden figure emerged. With this, the Princess understood that she herself would have to be like the fire, and go about separating what is useless from what is truly important.

During the following months she set about changing the kingdom, and devoted her life, her wisdom, and her riches to separating what is truly valuable from what is unimportant. She gave up the luxury, the jewels, the excess; and it meant that everyone in the kingdom now had food to eat and books to read. So many people came away from their interaction with the Princess enchanted by her character and her charisma. Her mere presence transmitted such human warmth that they started to call her ‘The Princess of Fire’.

And as with the pebble, the fire of her presence melted the hardness of the young man’s heart. And just as he had promised, he became so tender and considerate that he made the Princess happy till the end of her days.

Terjemah

Putri Api

Zaman dahulu, ada seorang putri yang luar biasa kaya, cantik, dan bijak. Bosan dengan pelamar palsu yang hanya tertarik pada uangnya, dia mengumumkan bahwa dia hanya akan menikahi siapa pun yang berhasil memberinya hadiah paling berharga, lembut, dan tulus dari semua.

Istana dipenuhi dengan bunga dan hadiah dari segala jenis, surat-surat yang menggambarkan cinta abadi, dan puisi-puisi cinta. Di antara semua hadiah yang luar biasa ini, dia menemukan kerikil, kerikil kotor sederhana. Penasaran, dia ingin tahu siapa pun yang menawarkan hadiah ini. Terlepas dari keingintahuannya, dia berpura-pura sangat tersinggung oleh hadiah itu ketika pria muda itu dibawa ke hadapannya. Dia menjelaskannya padanya seperti ini,

“Putri terkasih, kerikil ini melambangkan hal yang paling berharga yang dapat diberikan seseorang – itu adalah hatiku. Itu juga tulus, karena itu belum menjadi milikmu, dan itu sekeras batu. Hanya ketika dipenuhi dengan cinta akan melunakkan dan lebih lembut dari yang lainnya. “

Pria muda itu diam-diam pergi, meninggalkan sang Putri sehingga ia terkejut dan terpesona. Dia jatuh cinta sehingga dia membawa kerikil kecil ke mana pun dia pergi, dan selama berbulan-bulan dia menghibur pemuda itu dengan hadiah dan perhatian. Tetapi hatinya tetap sekeras batu di tangannya. Kehilangan harapan, dia akhirnya melemparkan kerikil ke dalam api. Di tengah panasnya api, pasir berjatuhan dari sekelilingnya, dan dari batu yang kasar itu muncul sosok emas yang cantik. Dengan ini, sang Putri mengerti bahwa dia sendiri harus menjadi seperti api, memisahkan apa yang tidak berguna dari apa yang benar-benar penting.

Selama bulan-bulan berikutnya dia mulai mengubah kerajaan, dan mengabdikan hidupnya, kebijaksanaannya, dan kekayaannya untuk memisahkan apa yang benar-benar berharga dari apa yang tidak penting. Dia meninggalkan kemewahan, perhiasan, kelebihannya; dan itu berarti bahwa setiap orang di kerajaan sekarang memiliki makanan untuk dimakan dan buku untuk dibaca. Begitu banyak orang menjauh dari interaksi mereka  dengan sang Putri yang terpesona oleh karakter dan karismanya. Kehadirannya semata-mata mentransmisikan kehangatan manusia sehingga mereka mulai memanggilnya ‘Sang Putri Api’.

Dan seperti halnya kerikil, api kehadirannya meluluhkan kekerasan hati pemuda itu. Dan seperti yang dia janjikan, dia menjadi begitu lembut dan penuh pertimbangan sehingga dia membuat sang Putri bahagia sampai akhir hayatnya.

The Fairy and The Shadow

Long, long time ago, before people and their cities filled the Earth, even before many things even had a name, there was a mysterious place that was guarded by the Fairy of the Lake. Fair and generous, each of her followers were ever willing to serve her. There was a time in which some evil beings threatened the lake and its surrounding forests, and the fairy’s followers joined her on a dangerous journey across rivers, swamps and deserts in search of the Crystal Stone, their only hope of being saved.

The fairy warned them of the dangers and difficulties that lay ahead, of how hard it would be to endure the whole journey, but none of her followers were afraid. They all promised to accompany her to wherever it was needed, and that same day the fairy and her fifty most loyal followers set out on their journey.

As it turned out, the voyage was even harder and more terrible than the fairy had imagined and warned them about. They were met by terrifying beasts. They had to march day and night, lost in deserts, hungry and thirsty. Faced by such adversity, many followers lost heart and abandoned the quest. Finally, only one remained, and his name was Shadow.

Shadow was by no means the bravest, he was not the best fighter, nor was he the most quick-witted or the most fun. However, what he did do was stay loyal to the fairy, right to the very end. Whenever the fairy asked Shadow why he had not done as the others and simply abandoned her, Shadow would always say, ‘I told you I would follow you in spite of all difficulties, and that is what I am doing. I am not going to turn my back on you just because the journey has been hard.’

Thanks to her loyal Shadow, the fairy finally managed to find the Crystal Stone. Unfortunately, there was a monster guarding the stone, and this monster was not about to give up the stone easily. At this, Shadow, in a final act of loyalty, offered himself in exchange for the stone. The monster accepted, and so Shadow spent the rest of his days in the monster’s service.

The powerful magic of the Crystal Stone meant that the fairy could return to the lake and make the evil beings disappear. But every night she would cry at the absence of her loyal Shadow, because from Shadow’s act of self-sacrifice had arisen a love stronger than any other.

And in memory of Shadow, and to show everyone the value of loyalty and commitment, the fairy presented every being on Earth with its own shadow during the day; but when nighttime comes all these shadows travel to the lake, to spend time with the sad fairy, and to try to console her for her loss.

Terjemah

Peri dan Shadow

Dahulu kala, sebelum orang dan kota mereka memenuhi Bumi, bahkan sebelum banyak hal memiliki nama, ada tempat misterius yang dijaga oleh Peri Danau. Adil dan murah hati, setiap pengikutnya bersedia untuk melayaninya. Ada saat di mana beberapa makhluk jahat mengancam danau dan hutan di sekitarnya, dan pengikut peri bergabung dengannya dalam perjalanan berbahaya melintasi sungai, rawa-rawa dan gurun untuk mencari Batu Kristal, satu-satunya harapan mereka untuk diselamatkan.

Peri memperingatkan mereka tentang bahaya dan kesulitan yang akan dihadapi di depan, tentang betapa sulitnya untuk menanggung seluruh perjalanan, tetapi tidak ada pengikutnya yang takut. Mereka semua berjanji untuk menemaninya ke mana pun dibutuhkan, dan pada hari yang sama peri dan lima puluh pengikutnya yang paling setia berangkat dalam perjalanan mereka.

Ternyata, perjalanan itu bahkan lebih sulit dan lebih mengerikan daripada yang dibayangkan peri dan pengikutnya. Mereka bertemu dengan binatang buas yang menakutkan. Mereka harus berjalan jauh siang dan malam, tersesat di gurun, lapar dan haus. Dihadapkan oleh kesulitan seperti itu, banyak pengikut kehilangan hati dan meninggalkan pencarian. Akhirnya, hanya satu yang tersisa, dan namanya Shadow.

Shadow sama sekali bukan yang paling berani, dia bukan petarung terbaik, juga bukan yang paling cerdik atau paling menyenangkan. Namun, apa yang dia lakukan adalah tetap setia pada peri, sampai akhir. Setiap kali peri bertanya kepada Shadow mengapa dia tidak melakukan seperti yang lain dan hanya meninggalkannya, Shadow akan selalu berkata, ‘Sudah kubilang aku akan mengikutimu terlepas dari semua kesulitan, dan itulah yang aku lakukan. Saya tidak akan meninggalkanmu hanya karena perjalanannya sulit.’

Berkat Shadow yang setia, peri akhirnya berhasil menemukan Batu Kristal. Sayangnya, ada monster yang menjaga batu itu, dan monster ini tidak akan menyerah dengan mudah. Mendengar ini, Shadow, dalam tindakan kesetiaan terakhir, menawarkan dirinya sebagai imbalan atas batu itu. Monster itu menerima sehingga Shadow menghabiskan sisa hari-harinya untuk melayani monster itu.

Keajaiban yang kuat dari Batu Kristal membuat peri bisa kembali ke danau dan membuat makhluk jahat menghilang. Tapi setiap malam dia menangis karena ketiadaan Shadow yang setia, karena dari tindakan pengorbanan Shadow telah muncul cinta yang lebih kuat daripada yang lain.

Dan untuk mengenang Shadow, dan untuk menunjukkan kepada semua orang nilai kesetiaan dan komitmen, peri itu memberikan setiap makhluk di Bumi dengan bayangannya sendiri di siang hari; tetapi ketika malam tiba, semua bayang-bayang ini pergi ke danau, untuk menghabiskan waktu bersama peri yang sedih, dan mencoba menghiburnya atas kehilangannya.

Itulah beberapa kumpulan cerpen dan artinya dengan berbagai tema yaitu sekolah, cinta, dan persahabatan. Cerpen adalah salah satu jenis karya sastra yang cukup ringan karena kita tidak memerlukan waktu lama untuk membacanya hingga akhir cerita. Meskipun demikian, selalu ada makna tersirat dalam setiap cerpen dengan tema apapun. Terlebih lagi, cerpen biasanya juga cerminan dari realitas kehidupan manusia sehingga ceritanya diambil dari kehidupan sehari-hari. Namun, ada juga cerita dengan bumbu fantasi dan sihir untuk menarik minat pembaca dalam dunia imajinasi. Apapun jenis cerpennya, sellau ada nilai moral atau pesan yang dapat diambil untuk refleksi kehidupan sehari-hari.

About Imam Khanafi

Leave A Comment...

*